Judul: Teks Bhasa Kakawin Hanan Niratha: Suntingan Teks dan Terjemahan Disertai Kajian Unsur-Unsur Puitik

Penulis: I Made Suparta

Subjek: Sastra Lama

Jenis: Tesis

Tahun: 2004

Abstrak

Teks Bhasa Kakawin Hanan Niratha (selanjutnya disingkat KHN) merupakan sebuah subgenre kakawin yang berasal dari tradisi sastra Jawa Kuno di Bali.  Teks bhasa KHN ditulis oleh rakawi yang bernama Mpu Niratha pada zaman pemerintahan Raja Dalem Waturengon di Gelgel (1460—1550). Berdasarkan ciri tekstual, teks bhasa KHN dikelompokkan dalam jenis kakawin minor.  Naskah teks bhasa KHN yang dikenal hingga kini ada yang berupa naskah lontar dan naskah kertas. Tujuan penelitian ini adalah menyajikan uraian naskah dan pertalian turunan di antara teks KHN serta penentuan teks dasar dianggap paling baik isinya serta menghasilkan edisi kritik teks KHN  disertai uraian pengarang dan waktu penulisannya.   

            Masalah yang dikaji meliputi kritik teks dan analisis sastra. Kajian tersebut dilakukan untuk mendapatkan teks yang paling baik dan paling lengkap isinya dari naskah yang digunakan melakukan kerja kritik teks dan menyajikan hasilnya sebagai bacaaan yang baik untuk analisis slanjutnya. Selain itu, juga dilakukan kajian kritik sastra untuk mengungkapkan unsur puitik dan estetik yang membangun bentuk dan makna yang dikandungnya. 

            Telaah dan perbandingan atas empat naskah lontar teks bhasa KHN yang digunakan mengungkapkan bahwa naskah A (Kirtya No. IVb 284/4) memiliki bacaan yang paling baik dan lengkap dari segi isinya serta kolofonnya cukup  lengkap. Selain itu, tata penulisannya sangat khas, yang berupa teks interlinier (semut sedulur) karena disertai dengan grantang basa (teks terjemahan) dalam bahasa Bali. Oleh karena itu, teks bhasa KHN yang terdapat dalam naskah A dipilih sebagai teks landasan untuk suntingan teks dan hasilnya diterbitrkan dalam penelitian ini. Berdasarkan hal itu, kemudian dilakukan kajian sastra, terutama dari segi unsur puitik dan estetik yang membentuk struktur karya tersebut sebagai satu kesatuan makna.

            Analisis struktur teks bhasa KHN dilakukan dari aspek sintaksis 9 mencakupi unsur bunyi, diksi dan pengimajian, serta spasial atau prosodi dan netrum),  aspek semantik (mencakupi tema, ruang, dan waktu), dan aspek semantik (mencakupi pengujaran, gaya bahasa, dan interpretasi simbolik). Dari analisis tersebut ditarik simpulan bahwa teks bhasa KHN pada dasarnya menyimpang dari tradisi kakawin yang dikenal secara umum. Teks bhasa KHN yang terdiri atas (1) bhasa NirathNa Sanu Sekar, (2) bhasa Hanan Niratha, (3) lamban Puspasancaya, (4) bhasa Hanja-Hanja Turida, dan (5)  bhasa Hanja-Hanja Sunsan membentuk karya sebagai sebuah sastra kakawin-lirik (puisi lirik Jawa Kuno) yang berbeda dengan kanon sastra kakawin yang umumnya berupa kakawin naratif karena berporos pada cerita epik (kepahlawanan) dari kavya Sanskerta.

            Teks bhasa KHN merupakan ungkapan pengembaraan estetis re;igius dari sang rakawi yang tersublimasi melalui pengujaran Aku Lirik (subjek lirik) yang sedang menahan derita rindu asmara karena berpisah dengan kekasihnya (vipralambha-sengsara).  Bentuk permainan bunyi (sabdalankara) dan permainan makna (arthalankara) berfungsi melahirkan ungkapan yang bersifaat liris-erotis sehingga mendukung tema utama.  Akan tetapi, ungkapan erotisme  dalam teks itu, baik berupa vipralambha-srengara (derita cinta asmara dalam perpisahan) maupun sambhoga-tenngara (nikmat cinta asmara dalam penyatuan) pada prinsipnya tidak bersifat genital, tetapi satu cinta asmara simbolik. Ungkapan lirik-erotisme dimaksudkan sebagai suatu cara pemujaan terhadap Dewa Kama sebagai Dewa Keindaha. Dengan demikian, ajaran filsafat keagamaan yang melandasi ungkapan erotisme itu adalah pandangan Siwais-Tantris (Siwa Siddhanta dan Tantra) yang menjadikan penciptaan kakawin sebagai media untuk mencapai penyatuan (silunlun)  dengan istadewata. Melalui penikmatan keindahan cinta-asmara sdan penikmatan keindahan alam (pasir-wukir), Aku Lirik melebur di dalamnya sehingga kakawin itu berfungsi sebagai yantra  (yoga estetis), yakni pemujaan kepada Kama (yang menurut Siwa Purana merupakan salah satu nama lain Dewa Siwa. (LS)