Judul: Kaba Gombang Patuanan: Sastra Lisan Minangkabau di Pesisir Selatan Sumatra Barat

Penulis: Eva Krisna

Subjek: Kesusastraan Lisan Minangkabau; Cerita Kaba

Jenis: Disertasi

Tahun: 2009

Abstrak

Kaba Gombang Patuanan (KGP) adalah genre cerita rakyat Minagkabau yang disampaikan secara lisan dengan dinyanyikan sehingga dinamai prosa berirama. Sebagai sastra lisan, KGP memerlukan media penyampaian. Media tersebut adalah pertunjukan yang bernama Pertunjukan Kak Oai (PKO) yang hidup di Kenagarian Air Haji Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat.

     Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan PKO, latar sosial budaya Minangkabau dan latar sosial budaya Pesisir Selatan dan Sumatra Barat; (2) menganalisis struktur formal KGP; (3) menganalisis struktur naratif dan morfologi KGP; (4) menganalisis dan mengungkapkan ideologi KGP, dan (5) menganalisis dan menemukan fungsi KGP. Konsep-konsep yang menyangkut kajian KGP ini adalah sastra lisan, kaba, dan suntingan teks wacana. Penelitian ini menunjukkan keterkaitan itu sebagai wujud interdisipliner dalam berbagai cabang ilmu.  Kajian interdisiplinaer terhadap sastra lisan KGP dilakukan dalam kerangka kajian antropologi sastra dan kajian tersebut relatif masih baru.

     Penelitian ini dilandasi oleh teori semiotik, teori morfologi, teori mitologi, dan teori fungsi berdasarkan pendekatan antropologi sastra. Dalam pandangan semiotik, karya sastra adalah sistem tanda yang akan bermakna bila dimaknai oleh pembaca berdasarkan konvensi-konvensi yang berhubungan dengannya.  Teori morfologi yang dimanfaatkan untuk menganalisis bentuk narasi KGP adalah yang disebut sebagai teori fungsi dongeng.  Teori yang digunakan untuk menemukan ideologi adalah teori mitologi atau konotasi yang dikembangkan oleh Barthes. Teori mitologi dimanfaatkan dengan cara memandang teks sebagai mitos.

     Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Data primer penelitian ini (teks KGP dan PKO) bersifat dokumentatif sebab sudah  ditranskripsi dan diterjemahkan pada tesis. Transkripsi itu disunting untuk memperbaiki ejaan dan struktur bahasanya. Data sekunder berupa latar sosial budaya Minangkabau  dan pemutakhiran data latar sosial budaya Kenagarian Air Haji dilakukan di lapangan dengan teknik: kepustakaan, pengamatan dan pencacatan, wawancara, dan dokumentasi.

     Simpulan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Kaba Gombang Patuanan (KGP) dilatarbelakangi oleh aspek sosial, budaya, kepercayaan, dan sejarah Minangkabau, Provinsi Sumatra Barat, dan kabupaten Pesisir Selatan. Oleh karena itu, semua aspek muncul dalam KGP, baik secara eksplisit  ataupun implisit. Aspek-aspek yang hadir dalam KGP merupakan fungsi KGP sebagai cerita rakyat dimunculkan oleh bentuk atau struktur. Fungsi KGP adalah sebagai hiburan sebab menyajikan harapan tentang figur raja. KGP juga berfungsi senagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, KGP memunculkan keutamakan ibu sebagai tumpuan kekerabatan, konsep makam, figur ayah, konsep ipar/semenda atau kekerabatan akibat perkawinan dan kekerabatan. Fungsi KGP yang lain adalah sebagai alat pendidikan anak-anak, yakni alat untuk menanamkan kebanggaan sebagai penduduk pribumi yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta pada negeri, menanamkan semangat chauvinisme dan menyadarkan anak-anak terhadap bahaya kolonialis yang datang untuk menguasai tanah pesisir Selatan.

     Dalam perkembangan kesastraan Indonesia, sinkretisasi berbagai ajaran seperti Hindu-Budha dan Islam dalam satu teks sastra digolongkan kepada sastra pengaruh peralihan, yakni  peralihan Hindu-Budha ke Islam. Aspek sosial, budaya, kepercayaan, dan sejarah yang melatari lahirnya KGP menghadirkan kearifan lokal yang merupakan ciri khas masyarakat koleksitf pemilik sastra lisan yang bersangkutan. Semestinya, pengkajian terhadap kearifan lokal dapat memberikan pemahaman terhadap kelompok etnis Minagkabau, memperkokoh rasa etnisitas antarorang Minangkabau secara internal, dan menambah wawasan multikulturalisme bagi masyarakat Indonesia. (aloy)

     Dalam perkembangan kesastraan Indonesia, sinkretisasi berbagai ajaran seperti Hindu-Budha dan Islam dalam satu teks sastra digolongkan kepada sastra pengaruh peralihan, yakni  peralihan Hindu-Budha ke Islam. Aspek sosial, budaya, kepercayaan, dan sejarah yang melatari lahirnya KGP menghadirkan kearifan lokal yang merupakan ciri khas masyarakat koleksitf pemilik sastra lisan yang bersangkutan. Semestinya, pengkajian terhadap kearifan lokal dapat memberikan pemahaman terhadap kelompok etnis Minagkabau, memperkokoh rasa etnisitas antarorang Minangkabau secara internal, dan menambah wawasan multikulturalisme bagi masyarakat Indonesia. (aloy)