Judul: Kontestasi Pemikiran Feminisme dan Ideologi Patriarki, Analisis pada Tiga Teks Sastra Berbudaya Arab-Muslim dengan Perspektif Feminisme Muslim

Penulis: Free Hearty

Subjek: Kritik Sastra

Jenis: Disertasi

Tahun: 2005

Abstrak          

Penelitian ini melihat kontestasi peikiran feminisme dan ideologi patriarki dalam tiga teks berbudaya Arab-Muslim, yakni Woman at Point Zero (WAPZ) karya Nawal El Saadawi (1976), A Wife for My Son  (AWfMS) karya Ali Ghalem (1969), dan The Beginning and The End (TBTE) karya Naguib Mahfoudz (1949). Karena yang diamnati adalah pertarungan ideologi, karya sastra itu diperlakukan sebagi satu aspek budaya. Dengan demikian, yang digunakan adalah pedekatan budaya. Pengkajian budaya mengamati aspek politis dan kehadiran teks sastra. Dalam hal itu teks sastra dianggap dapat menyosialisasikan berbagai hal untuk membangun atau meruntuhkan suatu ideologi.

            Pendekatan budaya feminisme, khusunya feminis muslim, digunakan untuk mengamati bagaimana gagasan feminisme dimunculkan dalam menghadapi dominasi laki-laki dan bagaimana citra perempuan sebagai korban atau citra perempuan yang berpotensi memperjuangkan kesetaraan ditampilkan dalam teks WAPZ, AwfMS, dan TBTE. Pendekatan budaya postfeminis yang digagas Naomi Wlf digabungkan dengan pandangan Fatima Mernissi dari feminis muslim digunakan untuk mengamati ketiga teks tersebut. Naomi Wolf menggunakan pendekatan feminis korban dan feminis kekuasaan untuk melihat permasalahan yang dihadapi perempuan dalam memperjuangkan  ideologi feminis. Feminis kekuasaan adalah cara yang melihat potensi perempuan dan menganggap perempuan sebagai manusia biasa, sama seperti laki-laki, untuk menjadi setara. Kesetaraan sudah menjadi hak perempuan tanpa harus dimohon dari orang lain. Feminisme korban adalah cara yang digunakan dengan membuat catatan penderitaan perempuan karena kejahatan laki-laki di bawah budaya patriarki sebagai jalan menuntut hak.

            Gagasan Wolf itu sejalan dengan pemikiran Fatima Mernissi yang melihat permasalahan dengan melakukan pendekatan yang mempraktikkan toleransi serta  menunjukkan potensi diri, dan bukannya pembenaran diri sendiri. Wolf dan Mernissi mempunyai pandangan yang sama, yaitu bahwa perlu membangun citra baru perempuan yang mengemukakan potensi diri yang mampu dan berhak untuk setara dengan laki-laki.

            Nawal El Saadawi yang terkenal sebagai feminis yang aktif menggugat kekuasaan lelaki dalam teks WAPZ menggunakan cara feminis korban. Nawal menggambarkan “catatan daftar kehancuran hidup Firdaus”  dalam usahanya menggugat kekuasaan laki-laki. Dalam kata pengantar dan cerita narator, Nawal  membangun citra Firdaus yang korban kejahatan laki-laki sebagai perempuan yang berani dan terhormat. Namun, melalui Firdaus yang menarasikan kisah hidupnya yang muncul adalah gambaran kelemahan perempuan yang dengan mudah dibodohi dan ditandas laki-laki tanpa pemberontakan yang berani.  Keberanian Firdaus yang dimunculkan dengan membunuh mucikari dan menolak mengajukan grasi tidak membangun citra baru perempuan. Keputusan membunuh muncul karena keadaan terdesak, tidak menunjukkan keberanian.

            Dalam AWfMS, Ghalem tidak setajam dan sekeras Nawal dalam mengangkat perjuangan perempuab yang menuntut peubahan. Namun, caranya yang terkesan hati-hati mengusung gagasan perubahan dan modernisasi Ghalem lebih menunjukkan bentuk  pembelaan terhadap laki-laki. Laki-laki dalam teks dimunculkan juga sebagai korban budaya, apalagi Ghalem secara tegas membedakan pemikiran tentang perubahan dan modernisasi dengan gagasan feminisme yang diangkst tokoh Fatouma. Sama seperti Nawal, Ghalem juga tidak membangun citra baru perempuan. Perempuan masih dimunculkan sebagai korban dalam konsep feminis korban dengan sifat dan sikap yang telah dibentuk budaya patriarki. Fatiha, tokoh utama, berontak hanya dalam gagasan. Sikap dan pilihan hidup bertentangan dengan pikiran yang menolak dominasi laki-laki. Ia menolak kawin paksa, tetapi tidak menolak ketika dipaksa kawin dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Ia ingin mandiri, tetapi menggantungkan hidup kepada suami. Pada akhir kisah, Fatiha berontak dengan meninggalkan suami dan rumah mertua, tetapi ditolak oleh orang tuanya. Menunggu dan berharap seperti itu merupakan citra perempuan yang ditampilkan.  

            Dalam TBTE, Mahfoudz memunculkan tokoh yang berbeda. Mahfoudz menyoroti potensi perempuan tidak dengan perspektif feminismne. Namun, ketika potensi tersebut disoroti, gambaran itu meruntuhkan mitos yang membagi kerja laki-laki dan perempuan. Gambaran itu membangun citra baru perempuan yang kuat, tegas, dan mandiri dalam membuat keputusan. Citra seperti itu memungkinkan perempuan menunjukkan kemampuan dan berjuang memperolah hak secara setara dengan laki-laki. Cara yang menyorot potensi perempuan seperti itu disebut sebagai feminis kekuasaan.

          Ketiga teks menunjukkan cara yang bebeda menunjukkan salam memunculkan kontestasi pemikiran feminisme dan ideologi patriarki. Perbedaan itu menampakkan bahwa kepedulian tentang diskriminasi gender dan kehendak memperjuangkan kesetaraan tidak serta merta membuat seseorang dapat mengatur langkah strategis untuk memperjuangkan kesetaraan tersebut. Hal itu menunjukkan pula bahwa seorang feminis yang memperjuangkan keberpihakan terhadap perempuan dapat pula terjebak dalam perilaku yang dikonstruksi budaya patriarki. Secara sdar atau tidak, mereka terjebak dalam sikap yang meminggirkan perempuan dan mengukuhkan kekuasaan laki-laki. (LS)