Judul: Gandrung Banyuwangi Pertarungan Pasar, Tradisi, dan Agama Memperebutkan Representasi Identitas Using

Penulis: Novi Anoegrajekti

Subjek: Sastra Lama

Jenis: Disertasi

Tahun: 2006

Abstrak          

Sejarah gandrung yang panjang menyisakan catatan bahwa kesenian milik komunitas Using ini selalu berhadapan dengan kekuatan di luar dirinya. Pasar (kapitalisme), birokrasi, dan agama telah sejak lama menjadi kekuatan yang menghegemoni kesenian tradisi itu.  Salam lima tahun terakhir (2000—20005), saat penulis melakukan etnografi untuk disertasi ini, persentuhan gandrung dengan ketiga aktor hegemoni tersebut mencapai punbcak intensitasnya.

     Disertasi ini membahas pertarungan antarkekuatan hegemoni gandrung tersebut dalam kerangka memperebutkan  representasi identitas Using. Pembahasan ini dimulai dengan terlebih dahulu menelaah hubungan antara gandrung dan komunitas Using dan deskriosi mengenai pertunjukan gandrung. Ada dua kategori pertarungan yang meskipun saling berkaitan  disajikan terpisah dalam disertasi ini. Pertama, pertarungan dalam menentukan teks pertunjukan menyangkut lagu, musik, tari, pembabakan, dan struktur pertunjukan. Kedua, pertarungan memperebutkan makna representasi identitas Using yang berpengaruh dalam penentuan teks pertunjukan.

     Dari seluruh bahasan tetang pertarungan tersebut dapat dilihat beberapa hal penting. Pertama, sebagai proses kebudayaan, kekuatan hegemoni itu terwujud dalam sebuah inkoporasi dengan posisi yang berbeda. Dengan merujuk pada konsep Williams, pasar sebagai yang paling mendominbasi dalam hegemoni, gandrung menjadi budaya dominan, konservasitradisi sebagai budaya residual karena bertahan dengan menghidupkan kembali makna, nilai, dan norma yang telah ditinggalkan, sedangkan Islam sebagai sesuau yang baru menjadi budaya emergent.nKedua, hegemoni adalah wilayah pertarungan yang berlangsung dinamis dan tidak stabil. Dominasi sebagai posisi terpenting dalam hegemoni akan tidak dikenali ketika penetrasinya semakin meluas dan tekanan dari kekuatan yang lain terus meningkat. Ketiga, representasi identitas merupakan wilayah pertarungan pemaknaan yang kemudian menyebabkan identitas itu merupakan konstruksi dan proyek (politik) penciptaan yang karena itu diskursif, retak, dan terus berubah.

     Akhirnya, dengan pembahasan tentang pertarungan memperebutkan representasi identitas Using, disertasi ini telah menjelaskan bagaimana politik kebudayaan beroperasi di tingkat mikro, tempat hegemoni, resistensi, invensi, dan konstruksi mewujudkan diri. Disertasi ini juga telah menunjukkan bagaimana sebuah kesenian berkembang di tengah kebudayaan plural dan masyarakt multietnik yang berada dalam perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Disertasi ini juga menunjukkan bagaimana poitik identitas dibangun dan diartikulasikan di ruang publik yang kompleks. (LS)