Judul: Sastra Lisan Minangkabau Kak Oai: Suatu Tinjauan Antropologi Sastra

Penulis: Eva Krisna

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Tesis

Tahun: 2006

Abstrak          

Kak Oai (selanjutnya disingkat KO) adalah salah satu ragam seni pertunjukan kaba Nan Gombang Patuanan (selanjutnya disingkat NGP). Penelitian ini dilakukan untuk menyelamatkan KO dari kepunahan dengan meneliti kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, masalah yang mendasari penelitian ini adalah cara apakah  yang ditempuh untuk menyelamatkan KO dari kepunahan. Untuk menjawab masalah tersebut, digunakan ancangan antropologi sastra dalam melakukan analisis KO.

     Teori yang digunakan dalam penelitian tradisi lisan KO meliputi penggabungan tiga disiplin ilmu budaya, yaitu sastra, antropologi sastra, dan bahasa, karena KO merupakan karya sastra yang mengandung hubungan manusia dan kebudayaan  yang dilahirkan melalui media bahasa. Keterkaitan bahasa, sastra, dan antropologi  adalah  bahwa (1) sastra dan antropologi memandang bahasa sebagai objek yang penting, (2) sastra dan antropologi mengkaji hubungan manusia dan budaya, dan (3) sastra dan antropologi saling terkait dalam bentuk tradisi lisan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif.

     Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa KO adalah  milik masyarakat Air Haji. KO menggambarkan kebudayaan masyarakat Pesisir Selatan, khususnya masyarakat Air Haji. Aspek kebudayaan Pesisir Selatan yang terdapat dalam KO, antara lain, adalah sistem kekerabatan, sisitem pemerintahan, bahasa, letak geografis, dan sistem religi. 

     KO menggambarkan sistem kekerabatan matrilini dan patrilini, tetapi cenderung menganut paham matriarki. Sistem pemerintahan dalam  KO adalah raja kecil yang tidak absolut dan pewarisan kebangsawanan berlaku berdasarkan ibu dan bapak. Masyarakat yang digambarkan adalah masyarakat bahari karena berlatar daerah pesisir.

     Pertunjukan KO saat ini sudah tidak ada lagi karena penuturnya telah meninggal dunia. Namun, untuk melestarikan agar KO tidak punah, KO dapat dipertunjukkan pada acara syukuran, seperti pesta pernikahan, khitanan, perayaan Idul Fitri, dan perhelatan negeri di Pesisir Selatan. Pertunjukannya pun dilakukan secara sederhana, yaitu duduk bersila di lantai,  dan penerang bukan merupakan syarat yang harus ada. Penampil KO, yaitu buyuang,  juga tidak menentukan harga sebagai imbalan pertunjukannya.

     Selain itu, dalam analisis ini juga ditemukan bahwa sistem kekerabatan yang terdapat dalam KO sama dengan sistem kekerabatan masyarakat Air Haji dan masyarakat Pesisir Selatan,  yaitu sesorang dapat mengikuti kekerabatan berdasarkan ibu sekaligus ayahnya (bilineal). Religi yang terdapat KO adalah sinkretisasi paham animisme dengan ajaran Islam. Tokoh dalam KO percaya kepada Allah seperti yang dianut kaum muslim, tetapi menyandarkan pertolongan kepada kekuatan arwah para leluhur mereka.

     Berkaitan dengan bahasa, KO disampaikan dalam bahasa Minangkabau umum dialek Pesisir Selatan. KO disampaikan dengan dendang yang diselingi pantun dan menggunakan gaya bahasa hiperbola. Beberapa latar tempat yang terdapat dalam KO merupakan nama tempat yang secara geografis dan legendaris benar adanya di Kabupaten Pesisir Selatan. (LS)