Judul: Gender dan Patriarki dalam Antologi Sihir Perempuan Karya Intan Paramadhita

Penulis: Ery Agus Kurnianto

Subjek: Sosiologi Sastra

Jenis: Tesis

Tahun: 2009

Abstrak          

Penelitian ini membahas fungsi tokoh supernatural dan strategi  teks dalam mendobrak wacana tentang perempuan  yang terdapat dalam antologi cerpen Sihir Perempuan  karya Intan Paramaditha dengan memperhatikan penggunaan sudut pandang, tokoh, dan simbol yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menunjukkan dan mendiskripsikan fungsi tokoh hantu  dalam antologi Sihir Perempuan serta menunjukkan dan mendiskripsikan wacana sekaligus menunjukkan strategi teks dalam cerpen karya Intan Paramaditha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif.

      Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gender. Teori itu memiliki konsep bahwa gender dipandang sebagai pengonstruksi hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat dengan mempergunakan empat unsur, yaitu  (1) simbol atau wacana yang telah ada secara membudaya, (2) konsep normatif yang muncul dari interpretasi simbol, (3) institusi dan organisasi sosial, dan (4) identitas subjektif yang masuk dalam hubungan sosial. Penelitian ini akan menjawab permasalahan yang diangkat, yaitu bagaimanakah fungsi tokoh hantu yang terdapat dalam antologi Sihir Perempuan dan bagaimanakah teks mendobrak wacana patriarki tentang perempuan dalam cerpen tersebut,

     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karya Intan menampilkan suasana horor yang membuat cerita mencekam dan menakutkan. Tokoh yang muncul dalam antologi cerpen Sihir Perempuan berupa makhluk supernatural, kisah perempuan hantu, vampir, legenda dunia lelembut, dan teror arwah gentayangan. Melalui tokoh hantu yang dihadirkan, Intan ingin menampilkan sisi lain  dari perempuan yang selama ini tidak  terjamah,

     Fungsi tokoh supernatural ditampilkan Intan untuk mendesak segala keadaban dan norma patriarki untuk dibongkar.Tokoh supernatural juga dipakai sebagai media untuk memprotes suatu konstruksi yang membuat perempuan tidak memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya.  Selain itu, melalui tokoh supernatural pengarang juga ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, seperi mengaktualisaikan diri, kejujuran, dan ketegaran.

      Dengan menggunakan teori gender, ditemukan pendobrakan terhadap wacana perempuan. Wacana tentang perempuan yang didobrak dalam antologi cerpen itu adalah wacana (1) peran ganda, (2) ratu rumah tangga, (3) perempuan selalu menjadi objek, (4) perempuan single parents atau janda, dan (5) tubuh dan kecantikan.

     Tokoh laki-laki yang ditampilkan adalah sosok yang penuh dengan atribut patriarki.  Tokoh tersebut nemiliki keberhasilan, kemampuan, mobilitas ke atas, kesehatan, dan keberhasilan karier personal yang dipercaya sebagai ciri laki-laki yang ideal. Hal itu menjadikan laki-laki mudah memiliki kekuatan, mendapatkan kekuasaan, melakukan dominasi, dan mendapatkan pengaruh atau posisi yang tinggi. Hal tersebut kemudian memunculkan aksioma bahwa perempuan sebagai makhluk yang secara sosial adalah inferior terhadap laki-laki. (LS)