Judul: Potret Remaja Perkotaan dalam Lupus: Sebuah Kajian Sosiologi Sastra

Penulis: Niknik Mediyawati

Subjek: Sosiologi Sastra

Jenis: Tesis

Tahun: 2003

Abstrak          

Serial Lupus karya Hilman Hariwijaya merpakan karya sasatra populer. Penelitian serial Lupus bertujuan menganalisis (1) karakter tokoh remaja, (2) cara pengarang menyajikan karyanya sehingga secara tidak langsung dapat menjadi dokumen sosial remaja perkotaan, dan (3) fungsi sosial serial Lupus bagi pembacanya, khususnya remaja perkotaan.

            Objek penelitian ini adalah tiga serial Lupus  yang tergabung dalam trilogi Lupus, yaitu  Boys Don’t Cry, Bunga untuk Poppi,  dan Candlelight Dinner.  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah ibservasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Serial Lupus dianalisis dengan pendekatan sosiologi sastra, yaitu sebuah pendekatan yang memusatkan hubungan karya, pengarang, dan masyarakat.

            Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa karakter tokoh remaja dalam serial Lupus mempunyai kemiripan dengan tokoh remaja perkotaan hasil survei Surindo, di antaranya terdapat tipe remaja, yaitu funky, cool, asal, dan plin plan. Tipe funky dan cool yang diwakili oleh tokoh Lupus dan Poppi adalah remaja yang selalu menghindari hal negatif. Mereka menyadari kelemahan dirinya, suja bergaul, dan memiliki kepedulian tinggi pada kondisi sosial di sekitarnya. Kelompok itu memiliki rencana masa depan yang jelas dan realistis dalam menghadapi permasalahan. Namun, penggambaran kedua tojoh tersebut terlalu dibuat-buat  sehingga terkesan kurang wajar, tidak seperti karakter remaja pada umumnya. Lain halnya dengan tokoh Rainbow, Fifi Alone, Adi Darwis, Boim, dan Gusur. Mereka digambarkan seperti karakter sebagian remaja perkotaan. Mereka mewakili segmentasi remaja asal, yaitu remaja yang jauh dari orang tua, suka merokok, meminum minuman beralkohol, cederung memilih sesuatu yang asing, dan kurang peduli terhadap lingkungan. Tokoh Boim dan Gusur yang mewakili segmentasi remaja plin plan, yaitu remaja yang jauh dari bimbingan orang tu, sehingga memiliki kebebasan, tetapi mengandalkan sesuatunya dari orang tua. Mereka cenderung kurang peduli terhadap lingkungan sosial dan mementingkan proses daripada hasil.

            Serial Lupus  juga mencerminkan gaya hidup remaja perkotaan. Pengarang dengan jeli mengangkat model (tren) yang sedang digemari remaja, khususnya tahun 1999 dan 2000, seperti model remaja funky, warung tenda sebagai tempat bergaul remaja, musik mancanegara, internet, serta bacaan komik Jepang dan Eropa.Jika dihubungan dengan hasil survei Surindo, gaya hidup remaja dalam serial Lupus  juga memiliki kemiripan yang membuktikan bahwa remaja di kota besar sangat peduli terhadap penampilan. Selain itu, ditemukan juga bahwa penhhunaan uang saku remaja banyak dipakai untuk  bermain dan belanja di pusat perbelanjaan sekaligus juga untuk memanfaatkan waktu luang mereka.

            Melalu gambaran tersebut disimpulkan bahwa remaja tahun 1999 dan 2000 dapt diidentikkan dengan remaja yang konsumtif (conspicuous consumption). Melalui penggambaran karakter remaja dan gaya hidup mereka diharapkan novel seria Lupus dapat memiliki fungsi sosial sastra yang menghibur dan mendidik pembacanya, terutama remaja. Dengan humor dan parodi yang dilukiskan pengarang, serial Lupus mampu menghibur dan dapat menyisakan memori di hati pembacanya. Pesan yang komunikatif dan penggambaran tokoh hitam putih dalam novel serial Lupus juga dapat mendidik pembacanya. (LS)